Dari Foro, Sungai Yordan sampai Maesa Tondano

Catatan 22 April 2010 (Waktu Hari Bumi)

Oleh Rikson Ch. Karundeng

Ayampun masih enggan turun dari peraduannya, namun para ibu dan anak-anak sudah memulai sebuah gerakan perjuangan demi kehidupan. Perjalanan selama beberapa jam sambil menerjang bukit-bukit berbatu adalah rutinitas yang biasa mereka jalani hingga 3 kali sehari. Antrian panjang adalah sebuah tahap selanjutnya yang harus dinikmati untuk bisa mengambil air dari Sungai Toiro yang semakin hari semakin sedikit dan semakin kecoklatan.

Salah satu potret kehidupan masyarakat Afrika. Foto National Geographic Edisi April 2010

Pemandangan ini adalah sesuatu yang sepertinya tak pantas bagi manusia, namun itulah kenyataan yang harus dialami masyarakat Desa Foro, di distrik Konso di barat daya Etiopia. Pemandangan ini hanyalah satu potret dari begitu banyak tempat di dunia ini yang kini menyajikan pemandangan serupa.

Sementara masyarakat di Afrika melawan ganasnya gurun agar dapat mengantri untuk mendapatkan setetes air kotor, masyarakat di wilayah Israel, Yordania dan Palestina harus melewati “ritual bertikai” demi menyentuh Sungai Yordan. “Dari jendela depan kami dapat memandang bahwa kami bisa melintasi lembah cokelat kering itu hingga ke barisan tumbuhan hijau kelabu yang menandai aliran Sungai Yordan. Ya, untuk sesaat airnya tampak bisa dijangkau. Tapi untuk sampai ke tempat itu aku harus melompati pagar listrik, menyeberangi ladang ranjau, dan melawan tentara Israel," ujar Salamah. 
Sungai Yordan tempat Yesus Dibaptis. "Sungai ini sepertinya tak lagi damai seperti yang dikisahkan dalam Alkitab"

Pandangan mata anak-anak Waleta Minahasa harus tiba-tiba teralih sejenak dari layar kaca tatkala Greenhill Weol jatuh saat berlarian untuk mendapatkan air di ruang belakang Sekretariat Gerakan Minahasa Muda. “Gila lei ini, sedangkan satu tetes so nda ada apa lei satu ember for di WC”, teriak Green dengan wajah terlihat sedikit panik.

“Bos, menurut warga di Perum Maesa UNIMA ini, so deng taong dorang da alami ini. Tiap hari bataria pa PDAM cuma nda ada hasil. Dulu kata boleh ja pi lari ambe aer di bawah mar skarang tu mata aer itu so kurang depe aer kong dorang so tutu lei. Jadi bukang cuma satu kali dorang da kawowoian kong nda ada aer sama deng angko da peragakan ini,” kata Rikson, disambut gelak tawa anak-anak Waleta Minahasa yang sebuk di meja redeaksi sambil menyaksikan tayangan televisi.

Beberapa menit berselang, seorang lelaki dengan kemeja biru muda masuk sambil menggenggam beberapa lembar kertas. “Mo ba tagih. Napa tu rekening aer,” katanya dengan nada enteng.

“Sebagai masyarakat yang hidop di negara hukum, torang tau atoran. Torang tau mana hak deng mana tu kewajiban. Mar bagimana lei ini, selama satu bulan ini torang nda pernah ada aer biar cuma satu tetes. Torang pe hak nda dapa mar torang pe kewajiban bayar aer torang tetap laksanakan. Cuma tu kewajiban itu kurang ja kase pa Tanta Nel di muka, deri biar saribu satu ember, tetap torang ja dapa aer pa dia,” terang Rikson.

“Oh, nda ja dapa aer dang di sini ? Nanti kita kase tau di kantor,” jawab orang berseragam itu, mengulang kata-katanya bulan sebelumnya, sambil berlalu begitu saja.

Masalah air ternyata bukan bukan cuma soal sulit mendapatkannya, ketersediaan air tidak sebanding dengan jumlah penduduk, masalah pencemaran air, tapi barangkali juga terkait dengan kebijakan pemerintah, seperti yang terjadi di Kota Air Tondano. Biarpun air melimpah namun kenyataannya banyak masyarakat yang masih sulit mendapatkan air bersih. Ironis memang, tapi itulah yang dialami masyarakat, diantaranya di Perum Maesa Tondano. 

Masalah air terus menerus menjadi problematika yang sulit dipecahkan. Penghematan air pun sulit dilakukan karena merasa bahwa air adalah sesuatu yang terus menerus ada dan tidak akan habis. Faktanya adalah jumlah total air yang ada di bumi saat ini relatif sama dengan saat bumi ini tercipta. Yang berubah hanyalah bentuk dari air tersebut dalam siklus air yang berlangsung terus menerus. “Jadi air yang dipakai mandi oleh Lumimuut dan Toar, boleh jadi sama dengan aer yang samantara Chandra Rooroh da pake for minum di Tonsea sana,” Sela Green, saat mendengar Ompi yang begitu asik membaca dengan suara nyaring buku bejudul Bumi Kita.

Akan tetapi dari semua air tersebut, hanya 3% saja yang merupakan air tawar dimana 97% lagi adalah air asin. Dari 3% ini juga terbagi-bagi lagi dengan es, air tanah dan air permukaan. “Depe masalah adalah bagimana dengan jumlah air yang konstan ini, barangkali torang harus benar-benar menyayangi penggunaannya dan tidak membuang percuma. Torang banya buang aer percuma for cuci tangan, mencukur, minum yang tidak dihabiskan, mandi, deng laeng-laeng. Ini aer tantu musti trus ada for torang pe anak dan cucu supaya dorang boleh dapa kehidupan yang sama deng kita sekarang,” terang Ompi.

“Mar Bos, baru-baru Kepala Bagian Pengendalian Pencemaran Badan Pengelolah Lingkungan Hidup (BPLH) Sulut, Olvie Ateng, da bilang kalau Danau Tondano yang memiliki luas sekitar 4.278 hektar yang berlokasi di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut), mengalami degradasi daerah tangkapan air akibat kerusakan lingkungan. Angko tau apa depe maksud deng depe hubungan deng tong pe cirita ?” tanya Green, sembari melanjutkan informasinya “Danau Tondano itu sumber kehidupan di Minahasa. Itu ukuran. Sedangkan Danau Tondano pe basar boleh kring depe aer, bagimana tu sumber aer laeng ?”

Sesuai dengan data resmi dari BPLH sulut, kerusakan lingkungan di seputaran danau Tondano terjadi akibat dampak pemanasan global, illegal loging, kebakaran, konversi hutan, pertambangan golongan C, sehingga berdampak pada erosi dan sedimentasi. Akibat adanya degradasi lingkungan di danau itu, kondisi kedalaman danau kini tinggal 20 meter dari permukaan, dibanding tahun 1934 sekitar 40 meter dan tahun 1983 sekitar 27 meter. Berarti dalam setahun telah terjadi pendangkalan sekitar 25-30 sentimeter.
Danau Tondano dilihat dari puncak tampusu. "Masa Depan Tou Minahasa"

Menurut Green, bila kerusakan lingkungan tidak dihentikan, diperkirakan sebelum 50 tahun kedepan danau tersebut sudah mengalami kekeringan. "Ini kalu mo ambe dasar deri perhitungan BPLH, so nda lama danau Tondano kring. Mo lia ini soal, musti ada peran multi stakeholder, nda boleh cuma mo berharap pa satu pihak. Kalu soal program konkrit, mantap lei sto sama deng Om Bert Polii da bilang, tanang seho banya-banaya di seputaran danau. Depe manfaat ganda," jelas Green, mengkritisi data BPLH Sulut yang sedang didiskusikan.

“Butul itu bos, apalagi Daerah Aliran Sungai (DAS) Danau Tondano memiliki manfaat besar pada upaya pemenuhan kebutuhan manusia, seperti sumber air bersih melalui PDAM ke Kota Manado sebanyak 25.296 pelanggan. Kemudian sumber distribusi listrik PLTA Tonsea Lama sekitar 14,4 Megawatt (MW), PLTA Tanggari Satu 18 MW, PLTA Tanggari II 19 MW, PLTA Sawangan 16 MW. Di sektor perikanan ada produksi ikan sekitar 534 ton. Bahkan bisa menyuplai air ke 3.000 hektar sawah padi di seputaran danau. Blung lagi depe prospek di sektor wisata," sambung Rikson.


Kepala Badan Pengelolah Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Tondano, Widiasmoro Sigit, pernah menegaskan kalau Danau Tondano terancam dangkal atau kekeringan, karena kurangnya penanggulangan lingkungan dari pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, masyarakat terkesan kurang serius menangani persoalan di Danau Tondano yang bisa berakibat penurunan debit air secara signifikan.

“Guna menanggulangi masalah di Danau Tondano, perlu ada konservasi secara berkesinambungan dengan meminimalisir terjadinya erosi dan sedimentasi sungai dan danau, menurunkan nilai parameter Total Suspensi Solid (TSS) dari 433-534 mg/lt menjadi <50mg/lt. Meningkatkan luasan daerah resapan dengan melakukan reboisasi lahan-lahan terbuka/kritis, merevitalisasi lahan-lahan kritis pada kawasan lindung,” kata Sigit ke salah satu media masa di Sulawesi Utara beberapa waktu lalu.

Air merupakan unsur utama bagi hidup di planet yang bernama bumi. Manusia mampu bertahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu, namun tanpa air ia akan mati dalam beberapa hari saja. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern, air juga merupakan hal utama untuk budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik, dan transportasi.

Semua orang berharap bahwa seharusnya air diperlakukan sebagai bahan yang sangat bernilai, dimanfaatkan secara bijak, dan dijaga terhadap pencemaran. Namun kenyataannya air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Hampir separo penduduk dunia, hampir seluruhnya di negara-negara berkembang, menderita berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan air, atau oleh air yang tercemar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, 2 miliar orang kini menyandang risiko menderita penyakit murus yang disebabkan oleh air dan makanan. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian lebih dari 5 juta anak-anak setiap tahun.

“Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaanya yang melebihi kapasitasnya untuk dapat diperbaharui. Kalau torang nyanda mengadakan perubahan radikal dalam cara memanfaatkan air, mungkin saja suatu ketika air tidak lagi dapat digunakan tanpa pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi kebanyakan negara,” terang Green.

Banyak orang memang memahami masalah-masalah pencemaran dan lingkungan yang biasanya merupakan akibat perindustrian, tetapi tetap saja tidak menyadari implikasi penting yang dapat terjadi. Sebagian besar penduduk bumi berada di negara-negara berkembang; kalau orang-orang ini harus mendapatkan sumber air yang layak, dan kalau mereka menginginkan ekonomi mereka berkembang dan berindustrialisasi, maka masalah-masalah yang kini ada harus disembuhkan. Namun bagaimanapun masalah persediaan air tidak dapat ditangani secara terpisah dari masalah lain. Buangan air yang tak layak dapat mencemari sumber air, dan sering kali tak teratasi. Ketidaksempurnaan dalam layanan pokok sistem saluran hujan yang kurang baik, pembuangan limbah padat yang jelek juga dapat menyebabkan hidup orang sengsara.

Siapa yang akan menyelamatkan Bumi Kita ???

Tayangan televisi soal bumi, air dan segala persoalannya, telah berakhir. Namun hal tersebut bukan pertanda bahwa penderitaan masyarakat di Foro, sekitar Sungai Yordan sampai di Perum Maesa Tondano, sudah berakhir. Bagi, anak-anak Waleta Minahasa, barangkali ini sebuah kesempatan baru untuk memulai perhatian dan tindak nyata perlindungan bagi air demi masa depan anak-cucu mereka.

“Ini aer di bumi memang banya mar depe soal lei banya. Danau Tondano banya depe potensi mar depe soal lei banya. Kong sapa mo atasi ini soal ?” Tanya Ompi yang direspons dengan ekpresi ‘baku haga’ anak-anak Waleta Minahasa. “Mudah-mudahan tu manusia di dunia nda cuma baku haga sama deng ngoni waktu lia ini persoalan”.


Selamat Hari Bumi !!!

Tempo

Oleh Rikson Karundeng

Deri Nyaku
Voor se karoong…..
Voor Denni, Chandra deng Andre......

Dapa inga waktu dulu eeee....


Brapa pulu taong lalu, masih ja dapa dengar gilingan milu
Brapa puluh taong lalu masih ja dapa lia cukuran kalapa
Barapa puluh taong lalu amper siang tambor mapalus kase bangong orang
Tanta-tanta pagi-pagi baku minta api voor mo momasa di dodika
Kalu abis beras samua baku kase


Dua taong datang, dodika bagini kurang mo cari di museum

Skarang samua itu kurang sadap ja inga…..
Skarang dong bilang itu so kuno
Dunia kata so ba putar


Dong bilang kata ini oma deng opa punya. Kalu torang so break dance,,,


Skarang so jam ampa amper siang Alo masih di Warnet da ba OL
Utu masih da kongko-kongko di leput sama-sama deng cap tikus stenga
Deri tu dua puluh botol stengah so rubu
Kong napa keke' baru pulang deri depe tampa karja


Dapa inga, ja ba kost mar tetap blanja di Super Market. Biar mama so susah, tetap jaga gengsi kata...

Tu tambor skarang kurang Fredi ja pake. Hehehe...


Tambor so nda ja dapa dengar
Yang ada piring pica tanta Unggu da banting
deri om Kale' baru ta sopu
Kong tanta Mien so nimbole pi minta api
deri samua birman pe pagar so lima meter
kong di atas botol pica deng kawa duri ta hias gagah
Skarang lei kalu mo minta bras dong kase mar tetap tulis di nota bon

Skarang memang so nda rupa dulu……

Napa no dorang tu Alo-Alo. Siang malang Ol trus.



Sepenggal kisah dari perjalanan Ziarah Kultura Waleta Minahasa

Oleh: Rikson Karundeng

Setelah melewati Gerbang Besar, kita akan memasuki pintu khusus menuju makam.

Sedikit info ini untuk membayar hutang kepada Bung Teddy Kholiludin (Sahabat saya yang keturunan KH Hasan Maulani). Sory baru bisa dikirim skarang. Kebetulan baru-baru ini saya dan Denni Pinontoan memandu sejumlah sejarahwan, antropolog, sosiolog, budayawan, pekerja seni dan sejumlah mahasiswa Pariwisata UNIMA, dalam rangka Ziarah Kultura Majalah Waleta Minahasa ke sejumlah situs budaya dan tempat-tempat bersejarah di Minahasa khususnya di Kota Tondano. 
Papan ini berada di samping kanan Pintu Masuk ke Makam.

Dalam ziarah kultura kali ini kami menyempatkan diri mengunjungi Makam Kyai Modjo, Pahlawan Nasional KH Ahmad Rifa'i, termasuk Sang Pejuang KH Hasan Maulani. Kunjungan ke makam Kyai Modjo dan para pengikutnya (termasuk makam istri-istri mereka yang asli Minahasa), termasuk sejumlah pejuang yang dianggap "ekstrimis" oleh Belanda waktu itu, benar-benar mengesankan. Selain karena kompleks makam yang telah ditata sedemikian rupa sehingga terlihat indah dan sejuk sampai bisa membuat para pengunjung nyaman dan sangat menikmati suasananya, tapi juga informasi-informasi yang diberikan Juru Kunci Makam Arbo Baderan yang merupakan keturunan ke enam dari Kyai Sepok Baderan (Pengawal khusus Kyai Modjo yang memiliki hubungan darah dengannya).
Tim Ziarah Kultura berfoto bersama di sejumlah makam yang dipagar khusus. Makam Kyai Modjo, Kyai Pulukadang Reksonegoro, Kyai Sepoh Baderan, Elias Zes, Mbah Gading, Kyai Marjo, Mas Peke, Dadapan Melangi, Kemes Pulukadang, Kyai Gozali (Anak Kyai Modjo) dan istrinya Ingkingan Tombokan.

Seperti catatan sejarah, Perang Jawa berkecamuk padat tahun 1825 – 1830. Tokoh penting yang tak bisa dipisahkan dari peristiwa ini adalah Bendoro Raden Mas Antawirya atau yang kita kenal dengan Pangeran Diponegoro. 
Makam Kyai Modjo (Ditutupi Kain Putih)

Singkatnya, 28 Maret 1830 Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April. Pada tanggal 11 April 1830 Diponegoro sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch. 30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno diputuskan akan dibuang ke Manado. 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam sampai akhirnya tahun 1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan hingga wafat di Makasar pada 8 Januari 1855.
Makam KH Ahmad Rifa'i dalam sebuah bangunan khusus di samping makam Kyai Modjo dkk.

Sebelumnya, pada tahun 1829 Sang Panglima Perang Kyai Modjo serta lebih dari 50 pengikutnya yang kesemuanya laki-laki, telah dibuang ke Manado oleh Belanda. Setelah "penangkapan" oleh Belanda pada 17 Nopember 1828 di dusun Kembang Arum, Jawa Tengah, Kyai Modjo dibawa ke Batavia dan selanjutnya diasingkan ke Tondano - Minahasa (Sulawesi Utara) hingga wafat di sana pada tanggal 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun. Ikut bersama beliau dalam pengasingan di Tondano adalah satu putranya (Gazaly), 5 orang kerabat dekat – ada pertalian darah (Tumenggung Reksonegoro Kyai Pulukadang, Tumenggung Zess Pajang, Ilyas Zess, Wiso/Ngiso Pulukadang, dan Kyai Baderan/Kyai Sepuh) serta lebih dari 50 orang pengikut lainnya yang semuanya laki-laki. Istri beliau menyusul ke Tondano setahun kemudian. Merekalah yang kemudian menjadi cikal-bakal masyarakat yang kini dikenal dengan Jawa Tondano (Jaton) dan termasuk salah satu titik yang menjadi cikal bakal kehadiran Islam di Tanah Minahasa.

Para pengikut Kyai Modjo yang semuanya laki-laki, rata-rata menikah dengan perempuan asli Minahasa. Ini bukan hanya bisa dibuktikan dengan data tapi juga melalui sejumlah makam yang berada di kompleks makam Kyai Modjo tersebut.

Makam KH Hasan Maulani

Tondano juga ternyata menjadi tempat dimana sejumlah tokoh gerakan perlawanan tehadap Belanda dibuang, diantaranya KH Ahmad Rifa’i dari Kendal dan KH Hasan Maulani dari Kuningan. Makam mereka kini berdiri tepat di samping makam Kyai Modjo dan diantara makam para pengikut Kyai Modjo serta istri mereka yang asli Minahasa. 

Beberapa catatan menarik yang sempat saya dapatkan dari sejumlah sumber tertulis termasuk hasil wawancara dengan Prof. Dr. A.F. Sinolungan, kehadiran Kyai Modjo dan para pengikutnya di Minahasa (perjumpaan Islam dan Minahasa) tidak pernah mengalami benturan. Sikap Kyai Modjo dan pengikutnya serta sifat terbuka Orang Minahasa telah memuluskan perjumpaan itu. Hukum Besar Hedrik Supit sebagai kepala Walak TondanoTolimambot bahkan memberikan tanahnya dengan sukarela bagi Kyai Modjo dan pengikutnya (Walaupun waktu itu hendak dibayar pemerintah Belanda). Lahan tersebut merupakan lahan terbaik yang ada di Tondano. Di tengah lahan itulah kemudian didirikan Mesjid Kyai Modjo Kampung Jawa Tondano.
Sejumlah makam para pengikut Kyai Modjo

Sesuai data, saat Kyai Modjo masuk ke Tondano, masyarakat Tondano belum Kristen walaupun telah ada para penginjil yang masuk ke sana. Yang menarik, menurut Prof Sinolungan, saat gedung gereja pertama akan dibuat di Tondano, para pemuda Jaton (waktu itu pengikut Kyai Modjo), ikut membantu dengan cara bersama-sama mengambil kayu di hutan Makalonsow sebagai bahan dasar pembuatan gedung gereja.
Bersama sang Juru Kunci, Arbo Baderan yang merupakan keturunan ke-6 dari Pengawal khusus Kyai Modjo, Kyai Sepok Baderan.

Paling terakhir Bung Tedi, sesuai data dan juga informasi yang didapat dari Juru Kunci Makam Kyai Modjo, Eyang Bung Tedi, KH Hasan Maulani adalah salah seorang yang tidak menikah lagi di Minahasa hingga meninggal dunia.

Barangkali ini dulu cerita saya, kalau ada yang kurang boleh kita diskusikan lagi.

Makam dr Istri Haji Tayib yang bermarga Wenas. Beliau merupakan salah satu Oma dari Pendeta A.Z.R. Wenas (Mantan Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa)

Rica-rica, Porsi Jumbo dan Lidah Orang Minahasa

Oleh Rikson Karundeng

Peret alias Paniki

Minahasa tidak hanya diingat karena masyarakatnya yang ramah dan alamnya yang eksotis tapi juga makanan khasnya yang termasuk ekstrim dan cukup menggoda. Setidaknya, itulah kesan yang diberikan para pelancong dari berbagai penjuru dunia setelah mereka mengunjungi tanah Minahasa.
Sayor Wongos Daong Popaya
Kukis Panada
Dodol asli Amurang

Jika kita melontarkan kepada Tou Minahasa yang ada di perantauan pertanyaan “Apa yang ngoni rindukan dari Tanah Minahasa” maka jawabannya pasti “Rindu sudara, Minahasa pe vasung deng tantu Tinorangsak, Pangi, Wiyoo,……”. Ya, makanan khas tetap ada dalam ingatan Tou Minahasa yang selalu dirindukan.
Sayor Paku Isi di Bulu
Mujair Woku
Mujair Bakar deng Dabu-dabu Lilang

Masakan khas Minahasa memang memiliki cita rasa tersendiri karena beberapa rahasia khusus. Om Welem Pandey, salah seorang juru masak andalan di setiap acara suka-duka di Roong Rumoong Atas Tareran mengungkapkan “Torang pe masakan selain de pe bumbu khas, cara momasa lei memang beda. De pe rahasia antara laeng cara momasa deng wadah yang digunakan waktu momasa. Misalnya, bungkus deng woka ato daong pisang. Satu lei, isi di bulu. Selain makanan jadi lombo, de pe vitamin nda banya ta buang, de pe rasa lei jadi sadap deng beda” kata Pandey dengan logat khas Tontemboannya.
Rintek Wuuk (RW)

“Rica-rica”. Di Indonesia, siapa yang tidak mengenal istilah ini ? “Ini sudah jadi branding, karena kalau dengar atau baca rica-rica pasti mereka tahu masakan khas Minahasa. Masakan Minahasa memang bayak diminati di Jakarta ini baik oleh orang Minahasa di sini maupun yang lainnya. Makanya, saya buka Restoran Minahasa dengan nama “Rica-rica”, ungkap Ko’ Acong yang mengaku hanya belajar masakan Minahasa dari salah seorang saudaranya di Manado.
Renga Santang

Saat sejumlah Hotel berbintang di buka di Manado, pemandangan menarik yang tidak biasa dilihat sebelumnya adalah peragaan atau demo cara memasak masakan khas Minahasa. “Untuk memberikan pelayanan nomor satu di hotel ini, salah satu hal yang dibuat adalah menyiapkan masakan-masakan khas Minahasa yang memang sangat dikenal di mana-mana. Ini memang bagian dari daya tarik Hotel ini,” kata Denny Jatnika, General Manager di salah satu Hotel berbintang di Manado.
Pangi

Orang biasa mengatakan “Kalu blum rasa rica berarti blum masakan Minahasa”. Masakan khas Minahasa memang rata-rata dibumbui dengan rica (cabe) yang memang jauh lebih banyak dari takaran yang biasa diberikan masyarakat kebanyakan di luar daerah Minahasa. Makanya tidak heran kalau cucuran keringat menjadi bagian dari kenikmatan saat menikmati masakan khas Minahasa.

“Pa torang pe lidah, daun apapun kecuali daun pintu dan hewan berkaki berapapun kalu so taru rica, so ikyaaang sadap itu”, kata Marlon Politton yang memang dikenal di Tondano Jago Makan. Ungkapan ini seakan mau menegaskan bahwa masakan apapun asalkan dibumbu pakai cabe, pasti cocok di lidah orang Minahasa. Makanya, kata “Rica-rica” kemudian bukan hanya menggambarkan makanan khas Minahasa tapi juga Selera orang Minahasa. Butul so kata ???
Tinutuan

Orang Minahasa terkenal juga dengan porsi makannya yang super jumbo. Tidak heran kalau banyak Restoran atau Rumah Makan khas Minahasa yang menyajikan porsi jumbo kepada pengunjung. Sejumlah Rumah Makan bahkan menyajikan berbagai macam makanan khas Minahasa dan bisa dinikmati sepuasnya (asal jang bungkus hehehe…) dengan harga murah “Pokonya makanan satu meja basar, makang ukur polote’ mar bayar cukup Rp. 15.000. Kalu nda percaya datang coba langsung jo.”
Nasi Milu deng Dabu-dabu roa
Nasi Jaha deng Ragey

Jadi, kalau kita hendak berkunjung ke Tanah Minahasa yang Eksotik jangan lupa menyempatkan diri untuk mencicipi masakan Khas Minahasa yang bisa di temui di banyak Rumah Makan. Kata para pelancong (dan kata saya. Hehehe….) tidak lengkap kalau berkunjung ke Minahasa dan menikmati keindahannya serta keramahan penduduknya, tanpa menikmati makanannya yang ekstra pedas, ekstrim namun ruarrrbiasa enaknya. Ingin mencoba pengalaman ini, datang saja langsung di Beautifull Land Minahasa !
Tinorangsak

Tuama, Sukma dan Diskusi Mawale

Oleh Rikson Childwan Karundeng
Danau Tondano dilihat dari Puncak Tampusu

Perbukitan Maesa Unima Tondano tampak penuh geliat, dari Blok A No.18, bertuliskan GERAKAN MINAHASA MUDA, terdengar alunan syahdu “Oh Ina Ni keke” dari sepasang X tech Super Woofer speaker yang mungil. Tapi Sang surya seakan tak peduli dan terus mendekati pembaringannya. Tiba-tiba weker menari sambil mendentangkan lonceng tiga kali. Sukmapun terkejut dan segera mengusik raga Si Tuama yang asik dengan tarian jemarinya di atas keyboard SPC usang. “Hei, mo ka Sonder torang ato nyanda ? So jam tiga ini Tuama !” Tendangan itu direspons Tuama yang secepat kilat mengarahkan krusor ke titik merah bertuliskan Turn Off.

Jaket kulit beraroma tiga macam (Casablanca, Daia plus Keringat) yang selalu setia menemani Tuama, langsung lengket di badannya dan dari luar, Shogun 125 menatap Tuama seakan dia tahu kini saatnya ia mengemban tugas selanjutnya. Saat tombol starter di tekan, stir hendak diarahkannya ke Tomohon, namun tiba-tiba Sukma menyelanya “Iko Gunung Tampusu jo torang. Selain dekat, torang lei boleh menikmati keindahan Tanah Minahasa dari sudut yang kadang Tou Minahasa ambe”.

Penuh gairah sukma berpacu dan sesekali ia meledek si Shogun 125 “Se lia angko pe jago,” dan Si Tuama mulai memainkan tali gas seolah memaksa mereka untuk bergegas menerjang pegunungan Tampusu dari wilayah Romboken. Betapa terpukaunya sukma tatkala puncak Tampusu ditaklukkan dan Tuama memalingkan wajahnya ke arah Danau Tondano. “Ternyata Danau Tondano memiliki pesona tersendiri kalu torang mo lia dari wilayah pegunungan Tampusu, ruwarrrrrr biacaaaa…..”, decak sukma dibalas anggukan Si Tuama seolah memahami betul apa yang dirasakan sukma.
Lembah Minahasa Tengah. 
Tampak Soputan tertutup awan.

Setelah sedikit memacu ke depan si Shogun, sukma kembali tersentak ketika Tuama sedikit mengarahkan pandangannya ke kiri dan tampak hamparan perkebunan Tou Minahasa di lembah yang luas di wilayah Minahasa Tengah, dengan lukisan Gunung Soputan di belakangnya. Wilayah yang menggoda mata itu memaksa Tuama menginjak rem dan berhenti sejenak untuk mengabadikan karya Agung Opo Empung itu. Tepat di ujung pandangan mata di ufuk timur, Pegunungan Lengkoan yang tampak masih perawan ikut juga memancarkan pesonanya.
Pegunungan Lengkoan dilihat dari 
Wanua Kasuratan.

Saat hendak menuruni lembah Tampusu menuju Wanua Leilem, Shogunpun kembali berhenti, “Stop bos ! Nyaku yakin ini bukang tampa ba teru akang Cap Tikus, soalnya depe pipa basar-basar. Oh nyaku tau, ini lokasi eksplorasi PT Pertamina Geothermal Lahendong,” Kata Sukma dan kembali di balas dengan anggukan oleh Si Tuama. “Angko tau Tuama, menurut yang nyaku tau, di sini kata tersimpan energi setara dengan 313 megawatt listrik. Haa, pembangkit listrik tenaga panas bumi ini so beroperasi deri taong 1996. Pembangkit listrik geothermal ini ka tiga di Indonesia setelah Kamojang, Jawa Barat, deng Sibayak, Sumatra Utara. Mar kata, sampe skarang pengolahan potensi geothermal di Lahendong, belum sepenuhnya tuntas. So itu pengeboran masih terus dorang ja lakukan. Dong bilang kata, uap panas bumi yang Pertamina Geothermal da gale, dorang salurkan ka pembangkit listrik negara wilayah Sulut. Depe kapasitas sebesar 60 ribu megawatt yang dialirkan mencakup amper 40 persen kebutuhan listrik masyarakat Sulut. Mantap to ? Mar lebeh mantap waktu lalu ada masyarakat da ba demo lantaran tako jang ini wilayah jadi sama deng di Lapindo. Oh rekey, kalu butul jadi, deng Fredi Wowor pe Sonder ona’ boleh ta tutu, hehehe….”
Kompleks Sumur PT Pertamina Geotermal 
Lahendong di atas Wanua Leilem (Di sebelah selatan Waua Tondangow)

Di sekitar lokasi Pertamina Geothermal Lahendong, ada juga sebuah kompleks bangunan yang bagian depannya bertuliskan Pabrik Gula Aren Masarang. “Ha…kalu ini pabrik ja menghasilkan berbagai jenis produk. Waktu tahap awal dorang konsentrasi di tiga jenis gula. Pertama gula semut, karena harga ekspor tertinggi, baru gula merah cetak, kong gula kristal Aren mas. Khusus untuk produksi gula kristal aren murni melalui proses modern di pabrik ini, merupakan yang pertama kali di dunia. Hasil sampingan pabrik adalah pati, ragi, dan molasses. Molasses dijadikan lagi ethanol, minuman obat, rum, kecap, makanan ternak, medium jamur, kompos, dll. Sehingga sama sekali tidak ada sisa produksi atau sampah dari pabrik ini. Proses pembuatan gula sendiri pula sama sekali tanpa menggunakan bahan kimia seperti di proses gula tebu. Waktu lalu nyaku dengar, untuk produksi satu shift karyawan, dapat dihasilkan 3 ton gula per hari yang berasal dari sekitar 26.000 liter nira segar per hari. Sebenarnya kata, persediaan nira di Tomohon saja masih jauh lebih besar. Untuk dapat menampung produksi yang jauh lebih besar pabriknya akan diperluas dengan dana dari Menkokesra, sehingga produksi pabrik akan mendekati 15 ton per hari dan lebih dari 10.000 lapangan kerja baru akan tercipta. Mantap, apalei dorang giat deng program penanaman aren. Ini tantu Om Bert Polii deng Om Frangky Maramis stuju skali. Mar, ta dengar skarang kata ini pabrik da ta brenti sementara. Ato lama wona kang ? Depe jelas ngoni tanya jo langsung pa Tanta Syeni Watulangkow ato pa Om Willy Smits. Angko ja dengar lei da ja bilang Tuama ato so nda ? Soalnya angko so dapa lia manganto. Capat jo dang jang tu tamang-tamang Mawale Movement somo ba tunggu lama !”
Pabrik Gula Aren Masarang
Lokasi Pengeboran Minyak Bumi oleh pertamina, tapi tidak 
dilanjutkan karena banyak alat rusak, termasuk bor patah. 
Fredy bilang, menurut kepercayaan masyarakat di lokasi tersebut 
memang tidak boleh sembarang diutak-atik.

Waktu telah menunjukkan pukul 16.00 Wita saat Si Tuama dan Sukma memasuki Wanua Sumonder. Maksud mereka hendak mengabadikan Lembah Sonder Bawah saat sunset, sayang langit mendung seakan belum memberi mereka kesempatan “Sabar jo Tuama jang kecewa, satu kali torang mo dapa tu moment terbaik itu,” kata Sukma seakan menghibur Si Tuama yang memang tampak sudah mulai lunglai. Namun, Si Tuama kembali bergelora saat memasuki rumah keluarga Wowor yang telah dibangun sejak tahun 1955 itu, tatkala melihat Fredy Wowor (Makawale), Ompi Stlight dan Ian (Amurang) beserta Denni Pinontoan (Tomohon) telah menanti dengan riang. Belum lagi, kopi hangat dan pisang goroho rubus yang tampak memang sudah menanti Si Tuama dan sukma. “Tabea !” sebuah sapaan hangat yang didorong Sukma, keluar dari Si Tuama.
Ini salah satu Perpustakaan Mawale Movement 
yang ta bongkar koleksi Fredy Wowor. Ini so amper 10 ribu judul.

Tak berapa lama, Greenhill Weol (Tareran) Chandra Rooroh (Treman) Charli Samola (Kalawat), Billi Manoppo (Manado Tua), Alan Umboh (Bitung), Inggrid Pangkey (Manado), Jendri Koraag (Koha), Bodewyn Talumewo (Poopo Motoling), Karlos Pesik (Sonder), ta sopu di lokasi tampa diskusi Mawale Movement 9 April 2010.
Suasana Diskusi. Billy, Charly, Green dan Fredy.

Kopi semakin dingin namun diskusi Mawale mulai bergulir semakin hangat. Malai dari mengkaji buku Iones Rakhmat "Membedah Soteriologi Salib" tentang Yesus Historis. Pertanyaan dan pernyataan yang muincul dari topic ini adalah, membedah soteriologi salib sama dengan membedah kekristenan (Barat) itu sendiri! Ketika soteriologi ini berhasil diruntuhkan dan dinyatakan tidak absah, maka apakah kekristenan juga runtuh dan menjadi tidak absah? Ya, kekristenan yang berfondasi pada soteriologi salib memang runtuh; tetapi penulis buku ini menurut Denni Pinontoan, membangunnya kembali dari keruntuhannya dengan mengajukan soteriologi-soteriologi alternatif yang tersedia dan yang tetap setia pada Yesus dari Nazaret. Pukul 18.00 Wita, topik berganti ke soal Pergerakan Pemuda GMIM kini hingga kelanjutan “Skolah Mawale” yang rencananya bulan berikut akan di gelar di Lewet Amurang.
Suasana Diskusi. So lebe Panas. Bode, Fredy, Karlos, Alan, Inggrid, Jendri.
Suasana Diskusi. Jendryi, saki kapala, Ompi Stres, Denni Tegang.

Dikusi semakin hangat ketika salah satu aktifis Mawale yang kini giat dengan YDRInya, Andre GB tiba dari Bolaang Mongondow. Nama Giroth Wuntu kembali diperbincangkan waktu mendiskusikan Buku Andre yang segera akan terbit "Menganyam Cerita dari Benang Kebisuan" yang berisi tentang kesaksian-kesaksian para eks PKI, kajian HAM. Perdebatan karena perbedaan pendapat, sejumlah fakta dan data terungkap hingga usulan-usulan yang direkomendasikan untuk Andre, cukup menguras energi. Diskusi terpaksa harus berhenti pukul 3.30 pagi mengingat ada yang harus melanjutkan aktifitas pagi itu dan diksusi berakhir dengan gelak tawa ketika Andre dan pasukan Mawale yang lain mulai membayangkan kondisi anggota Mawale 50 taong datang (Kalu umur panjang, hehehe…) Yang paling parah bahwa saat itu ternyata Fredy Wowor belum juga menikah dan masih terus bercinta dengan buku-bukunya yang kini hampir 10 ribu judul, sedangkan Green Weol masih kata ba tona’ trus deng Angga. Sementara Andre telah menikah ke enam kali dan masih dengan orang yang sama. “So ngana tu manusia paling soe, kaweng brapa kali dengan perempuan yang sama !” Canda Weol menutup kebersamaan Mawale saat itu, sebelum akhirnya semua terlelap seperti ikang roa di kamar pa Fredy.

Tu cerita ada banya lei, mar nanti tu tamang2 laeng tambah akang jo………
Napa tu Ikang Roa. Hehehe....Pis Tuari !!!

My Beautiful Land

Oleh Rikson Karundeng
For Katuari Waya di seberang sana.........

Surise 04.45 AM: Pulau Lembe, Gunung Klabat dan Dua Sudara, menatap Kota Bitung. Dari Puncak Temboan Rurukan torang lei ikut menatap.


Dari Puncak Temboan, tampak Cot di atas Kumelembuai Tomohon bersahut-sahutan dengan Klabat dan dari jaoh Pante Manado tersenyum.
 
Bak Teterusan ia berpekik " I....Yayat U...Santi !
Dan Waranei itu membelah gelap berselimut kabut
Melintasi Mahawu yang masih membisu


Dengan gagah Pegunungan Lembean berucap: "Apa kabar kekasihku Danau Tondano, Slamat Pagi Tondano, Slamat Pagi Minahasa"
 
Nafsu memburunya tuk menaklukkan Temboan
Tak ingin ia melepaskan sang kekasih beranjak dari pembaringannya
Nafas menderu semakin merangsang hasrat
Dan satu desahan kelegaan
memeluk asanya yang kini orgasme


"Pagi Bae !" Masarang bilang.
 
Di atas rumput permadani embun...
Di depan mata Masarang......
Dalam awasan Lembean....
Kening sang kekasih di balik Lembe' dikecupnya
dan sang kekasih tersenyum dengan sinarnya


Denni, Rikson, Green dan Sang Mentari. Dari blakang Kamera Ompi bilang: "Nda Rugi Mawale tidor jam satu bangong jam stenga ampa"
 
Klabat dan Dua Sudara hanya tersipu menatapnya
Dano Tourano hening tak berujar....
Dalam kalbu ia dendangkan "Oh Minahasa Kinatoanku"


Torang Pe Cirita

Tadi pagi Torang bacirita....

DUA SUDARA : Klabat, ngana do' pe gagah skali, pe tinggi, dapa lia damai...

KLABAT : Mar ngoni dua lei pasung, kong salalu baku sayang. Mantap !

MASARANG : Kalu kita dang weta' ?

KLABAT : Angko lei dapa lia pasung. Tanya jo pa Lembean !

LEMBEAN : Tu'u ! Torang samua lebe pasung kalu so sama2 deng Danau Tondano dg Pante Manado.

MENTARI : Tiap kita bangong, langsung rasa dame ja lia pa ngoni. Pasuuuuung skaliiyanan. Semoga ini Tanah Malesung Dame deng pasung salalu.

GREEN : Kalu kita, Ompi, Rikson deng Denni dang ?

MENTARI : ???????????? Hehehe.....bakusedu katu. Biar ngoni blung cuci muka, tetap pasung lei.
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 WarugaKita |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.